Jumat, 26 November 2010
cuaca tak menentu
Do you like this story?
Cuaca Tak Menentu, Bakal Rawan Pangan
Selasa, 14 September 2010 | 03:12 WIB
KOMPAS/SUPRAPTO
ilustrasi
SINTANG, KOMPAS.com - Anggota DPRD Sintang, Ginidie mengatakan kondisi cuaca saat ini yang tidak menentu membuat masyarakat belum bisa memulai bercocok tanam, sehingga akan berdampak pada ketersediaan pangan warga di kabupaten itu.
"Biasanya Juli dan Agustus masyarakat sudah mulai berladang, tapi sekarang saya lihat kebanyakan masih belum bisa memulainya karena kondisi cuaca yang tidak menentu," kata Ginidie di Sintang, Senin (13/9/2010).
Menurutnya, kondisi itu jelas mengancam ketersediaan pangan warga karena pada dasarnya warga memiliki kearifan lokal untuk memenuhi kebutuhan pangannya.
"Biasanya cadangan beras warga habis menjelang musim panen berikutnya, tapi sekarang bisa jadi musim panen akan mundur dari waktu biasanya dan tentunya akan berdampak pada ketersediaan pangan masyarakat," jelasnya.
Ia tidak menampik, masyarakat sudah terbiasa dengan pola berladang untuk menaman padi yang sangat tergantung pada kondisi cuaca dimana pada saat kemarau biasanya lahan yang akan dijadikan ladang dibakar terlebih dahulu.
"Kebiasaan itu butuh proses untuk mengubahnya karena mereka lebih akrab dengan pola berladang bukan mencetak sawah, sehingga cuaca akan sangat menentukan kapan musim tanam dimulai," kata dia.
Politisi PKPB yang juga Sekretaris Komisi I DPRD Sintang itu menilai cara membakar masih dianggap masyarakat sebagai cara yang efektif ketika membuka ladang, apalagi saat ini belum ada cara efektif lainnya tanpa membakar ladang yang bisa diterapkan warga.
"Kalau ada cara lainnya dan lebih efektif dari membakar bisa saja diterapkan, dengan kondisi cuaca yang selalu hujan, semak belukar hasil tebangan lambat kering sehingga ladang sulit dibakar," imbuhnya.
Pada kondisi seperti itu, ia mengatakan warga tentunya akan sangat bergantung pada distribusi bahan pangan.
"Disinilah saya lihat peran pemerintah dan tentunya ketika distribusi lancar maka ancaman kerawanan pangan bisa teratasi," imbuhnya.
Menurutnya, pemerintah kabupaten sudah harus memiliki langkah antisipasi jika ternyata kondisi cuaca tetap seperti saat ini hingga beberapa bulan ke depan.
"Jangan sampai masyarakat yang bergantung dengan hasil berladang ini kekurangan bahan pangan, prediksi kemungkinan bencana sudah semestinya diantisipasi sejak dini," katanya.
Beberapa hari terakhir, hujan terus mengguyur Sintang dan sekitarnya membuat air Sungai Kapuas dan Sungai Melawi yang melintasi kabupaten itu kembali naik dan menggenangi sejumlah jalan utama di permukiman warga yang berada di pinggiran kedua sungai itu.
ANT"Biasanya Juli dan Agustus masyarakat sudah mulai berladang, tapi sekarang saya lihat kebanyakan masih belum bisa memulainya karena kondisi cuaca yang tidak menentu," kata Ginidie di Sintang, Senin (13/9/2010).
Menurutnya, kondisi itu jelas mengancam ketersediaan pangan warga karena pada dasarnya warga memiliki kearifan lokal untuk memenuhi kebutuhan pangannya.
"Biasanya cadangan beras warga habis menjelang musim panen berikutnya, tapi sekarang bisa jadi musim panen akan mundur dari waktu biasanya dan tentunya akan berdampak pada ketersediaan pangan masyarakat," jelasnya.
Ia tidak menampik, masyarakat sudah terbiasa dengan pola berladang untuk menaman padi yang sangat tergantung pada kondisi cuaca dimana pada saat kemarau biasanya lahan yang akan dijadikan ladang dibakar terlebih dahulu.
"Kebiasaan itu butuh proses untuk mengubahnya karena mereka lebih akrab dengan pola berladang bukan mencetak sawah, sehingga cuaca akan sangat menentukan kapan musim tanam dimulai," kata dia.
Politisi PKPB yang juga Sekretaris Komisi I DPRD Sintang itu menilai cara membakar masih dianggap masyarakat sebagai cara yang efektif ketika membuka ladang, apalagi saat ini belum ada cara efektif lainnya tanpa membakar ladang yang bisa diterapkan warga.
"Kalau ada cara lainnya dan lebih efektif dari membakar bisa saja diterapkan, dengan kondisi cuaca yang selalu hujan, semak belukar hasil tebangan lambat kering sehingga ladang sulit dibakar," imbuhnya.
Pada kondisi seperti itu, ia mengatakan warga tentunya akan sangat bergantung pada distribusi bahan pangan.
"Disinilah saya lihat peran pemerintah dan tentunya ketika distribusi lancar maka ancaman kerawanan pangan bisa teratasi," imbuhnya.
Menurutnya, pemerintah kabupaten sudah harus memiliki langkah antisipasi jika ternyata kondisi cuaca tetap seperti saat ini hingga beberapa bulan ke depan.
"Jangan sampai masyarakat yang bergantung dengan hasil berladang ini kekurangan bahan pangan, prediksi kemungkinan bencana sudah semestinya diantisipasi sejak dini," katanya.
Beberapa hari terakhir, hujan terus mengguyur Sintang dan sekitarnya membuat air Sungai Kapuas dan Sungai Melawi yang melintasi kabupaten itu kembali naik dan menggenangi sejumlah jalan utama di permukiman warga yang berada di pinggiran kedua sungai itu.
Sumber :
Editor: Benny N Joewono Dibaca : 247
Ada 0 Komentar Untuk Artikel Ini. Kirim Komentar Anda
Kirim Komentar Anda

This post was written by: Franklin Manuel
Franklin Manuel is a professional blogger, web designer and front end web developer. Follow him on Twitter
Langganan:
Posting Komentar (Atom)




0 Responses to “cuaca tak menentu”
Posting Komentar